Menjaga jarak kehamilan tak hanya menyelamatkan ibu dan bayi dari sisi kesehatan, namun juga memperbaiki kualitas hubungan psikologis keluarga.
Wanita berbaju bunga-bunga itu tampak repot ketika masuk kamar periksa sebuah klinik bersalin di kawasan Bekasi. Langkahnya tergopoh-gopoh. Tangan kanannya memegangi perut buncitnya, sementara tangan kiri menggandeng bocah lelaki berusia setahun. Seorang suster membantu perempuan berusia 37 tahun itu. “Suami saya masih berlayar. Ini jadwal pemeriksaan bulan kedelapan. Biasanya saya periksa dibantu seorang pembantu. Tapi hari ini si bibi mesti di rumah menjaga anak sulung saya berusia tiga tahun yang sakit panas,” tuturnya dengan suara kelelahan.
