<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Psikologi Keluarga</title>
	<atom:link href="http://masalahkeluarga.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://masalahkeluarga.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Aug 2011 04:27:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='masalahkeluarga.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Psikologi Keluarga</title>
		<link>http://masalahkeluarga.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://masalahkeluarga.wordpress.com/osd.xml" title="Psikologi Keluarga" />
	<atom:link rel='hub' href='http://masalahkeluarga.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>&#8220;KARENA SETIAP HARI DALAM HIDUPMU ADALAH ISTIMEWA!&#8221;</title>
		<link>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2010/03/23/karena-setiap-hari-dalam-hidupmu-adalah-istimewa/</link>
		<comments>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2010/03/23/karena-setiap-hari-dalam-hidupmu-adalah-istimewa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 01:37:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Alkayyis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Istimewa]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Suami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masalahkeluarga.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Sahabatku membuka laci tempat istrinya menyimpan underwear. Dia membuka bungkusan berbahan sutra &#8220; Ini, &#8230;&#8230;.&#8221;, dia berkata, &#8221; Bukan bungkusan yang asing lagi&#8230; &#8230;&#8221; Dia membuka kotak itu Dan memandang underwear berbahan sutra serta kotaknya. &#8220;Istriku membeli ini ketika pertama kali kami pergi ke New York, Kira-kira 8 atau 9 tahun yang lalu. Dia tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masalahkeluarga.wordpress.com&amp;blog=3536392&amp;post=11&amp;subd=masalahkeluarga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table border="0" cellpadding="0" width="98%">
<tbody>
<tr>
<td width="99%" valign="top">
<table border="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="100%" valign="top">Sahabatku       membuka laci tempat istrinya menyimpan underwear.<br />
Dia membuka bungkusan berbahan sutra <em>&#8220;</em><em> </em><em>Ini, &#8230;&#8230;.&#8221;,</em> dia berkata,<br />
&#8221; <em>Bukan       bungkusan yang asing lagi&#8230; &#8230;&#8221;</em></p>
<p>Dia membuka kotak itu Dan memandang underwear berbahan sutra serta       kotaknya.</p>
<p><em>&#8220;Istriku       membeli ini ketika pertama kali kami pergi ke New York,<br />
Kira-kira 8 atau 9 tahun yang lalu.<br />
Dia tidak pernah mengeluarkan bungkusan ini apalagi mengenakannya.<br />
Karena menurut dia, hanya akan dia gunakan untuk kesempatan yang       istimewa.&#8221;</em></p>
<p>Dia melangkah ke dekat tempat tidur Dan meletakkan bungkusan tersebut<br />
Di dekat pakaian yang dia pakai ketika pergi ke pemakaman.<br />
Istrinya baru saja meninggal.<br />
Dia menoleh padaku Dan berkata:</p>
<p><strong><em><br />
&#8220;JANGAN PERNAH MENYIMPAN SESUATU UNTUK KESEMPATAN ISTIMEWA, KARENA       SETIAP HARI DALAM HIDUPMU ADALAH ISTIMEWA!&#8221; </em></strong></p>
<p>Aku masih berpikir bahwa kata-kata itu akhirnya mengubah hidupku.<br />
Sekarang aku lebih banyak membaca Dan mengurangi bersih-bersih.<br />
Aku duduk di sofa tanpa khawatir tentang apapun.<br />
Aku meluangkan waktu lebih banyak bersama keluargaku<br />
Dan mengurangi waktu bekerjaku.<br />
Aku mengerti bahwa kehidupan seharusnya menjadi sumber pengalaman<br />
Supaya bisa hidup, tidak semata-Mata supaya bisa survive (bertahan hidup)       saja. Aku tidak berlama-lama menyimpan sesuatu.<br />
Aku menggunakan gelas-gelas kristal kesayanganku setiap Hari.<br />
Aku akan mengenakan pakaian baru untuk pergi ke Supermarket, jika aku       menyukainya. Aku tidak akan menyimpan parfum specialku untuk kesempatan       istimewa, aku menggunakannya kemana pun aku menginginkannya.<br />
Kata-kata <em>&#8220;Suatu Hari &#8230;..&#8221; Dan &#8220;Suatu saat       nanti&#8230;&#8230;&#8221; </em>sudah lenyap dari kamusku. Jika dengan melihat,       mendengar Dan melakukan sesuatu ternyata bisa menjadi berharga, aku ingin       melihat, mendengar atau melakukannya sekarang.<br />
Aku ingin tahu apa yang dilakukan oleh istri temanku itu apabila dia tahu<br />
Dia tidak akan Ada di sana pada pagi berikutnya,<br />
Ini yang tak seorangpun mampu mengatakannya.</p>
<p>Aku berpikir, jika mungkin dia tahu, malam sebelumnya dia pasti sedang       mengenakan underwear kesayangannya itu. Atau sehari sebelumnya dia akan       menelepon rekan-rekannya serta sahabat terdekatnya. Barangkali juga dia       akan menelpon teman lama untuk berdamai atas perselisihan yang pernah       mereka lakukan. Mungkin dia akan pergi makan Martabak Spesial, makanan       favoritnya bersama suaminya. Semua ini adalah hal-hal kecil yang mungkin       akan Kita sesali jika tak sempat Kita lakukan. Kita akan menyesalinya,       karena Kita tidak akan lebih lama lagi melihat orang-orang yang Kita       sayangi.<br />
Aku teringat orang-orang yang aku kasihi<br />
Aku akan menyesal Dan merasa sedih,<br />
Jika aku tidak sempat mengatakan betapa aku sangat mencintai mereka.<br />
Sekarang, aku akan mencoba untuk tidak menunda<br />
Atau menyimpan apapun yang bisa membuatku tertawa<br />
Dan bisa membuatku menikmati hidup.<br />
Dan setiap pagi, aku akan berkata kepada diriku sendiri<br />
Bahwa Hari ini adalah Hari yang istimewa bagiku.<br />
Setiap Hari, setiap jam, setiap menit, adalah istimewa.</p>
<p>Apabila kamu mendapatkan pesan ini,<br />
Itu karena seseorang peduli padamu<br />
Dan mungkin karena Ada seseorang yang seharusnya kamu pedulikan.<br />
Jika kamu terlalu sibuk untuk mengirimkan pesan ini kepada orang lain<br />
Dan kamu berkata kepada dirimu sendiri<br />
Bahwa kamu akan mengirimkannya <em>&#8221; suatu saat nanti&#8230;..&#8221;</em><br />
Ingatlah bahwa &#8220;<em> suatu saat nanti</em> &#8221; itu sangat jauh.</p>
<p><strong>Dan mungkin tidak akan pernah datang padamu&#8230;.</strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masalahkeluarga.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masalahkeluarga.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masalahkeluarga.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masalahkeluarga.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masalahkeluarga.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masalahkeluarga.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masalahkeluarga.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masalahkeluarga.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masalahkeluarga.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masalahkeluarga.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masalahkeluarga.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masalahkeluarga.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masalahkeluarga.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masalahkeluarga.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masalahkeluarga.wordpress.com&amp;blog=3536392&amp;post=11&amp;subd=masalahkeluarga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2010/03/23/karena-setiap-hari-dalam-hidupmu-adalah-istimewa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5fb2535e7d875839d6968487223525d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Alkayyis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hikmah Kejadian</title>
		<link>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/05/04/hikmah-kejadian/</link>
		<comments>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/05/04/hikmah-kejadian/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 May 2008 01:13:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Alkayyis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masalahkeluarga.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Ada kejadian-kejadian dalam hidup yang kadang terlewat begitu saja dalam hidup kita, sedang kita tak dapat mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian itu. Ada banyak kisah yang telah kita baca tetapi semua itu hanya lewat dalam pandangan mata , tanpa kita berusaha mengambil sikap..apa yang saya tulis di atas sebenernya menunjuk pada diri saya sendiri yang kadang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masalahkeluarga.wordpress.com&amp;blog=3536392&amp;post=10&amp;subd=masalahkeluarga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;color:black;"><span style="font-family:Arial;">Ada kejadian-kejadian dalam hidup yang kadang terlewat begitu saja dalam hidup kita, sedang kita tak dapat mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian itu. Ada banyak kisah yang telah kita baca tetapi semua itu hanya lewat dalam pandangan mata , tanpa kita berusaha mengambil sikap..apa yang saya tulis di atas sebenernya menunjuk pada diri saya sendiri yang kadang tidak ambil pusing dengan kejadian di sekitar kita, sampai saya membaca sebuah buku dimana ada tiga kisah yang ditulis di buku itu yang memberikan kesan mendalam, bahwa seandainya kita mau membuka mata hati dan telinga kita akan kita dapatkan pelajaran hidup yang sangat mendalam.</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;"><span style="font-family:Arial;"><span id="more-10"></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;"><span style="font-family:Arial;">Sekitar beberapa hari yang lalu saya membaca buku karangan Komaruddin Hidayat, yang berjudul Psikologi beragama. di buku ini dia menceritakan 3 kisah dan sekaligus pesan yang dapat kita tangkap dari kisah ini.</span></span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:&quot;">Kisah pertama</span></strong><span style="font-size:10pt;color:black;"><span style="font-family:Arial;"> tentang Nelson Mandela yang ditanya oleh salah seorang pengagumnya, Apakah setelah dia menjadi presiden Afrika selatan, dia tidak dendam dan geram terhadap musuh politiknya di masa lalu? di jawab oleh Mandela,&#8221; Kalau aku biarkan dan kupelihara terus kekesalan dan kebencianku kepada para penindas itu, maka mereka masih akan terus menyandera diri dan jiwaku, karena itu aku buang semua kebencian itu sehingga aku benar-benar bebas dan merdeka.</span></span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:&quot;">Kisah kedua</span></strong><span style="font-size:10pt;color:black;"><span style="font-family:Arial;">, ada seorang kyai yang ditanya, mengapa sesama muslim, bahkan diantaranya adalah tokoh agama, suka mencemooh Muslim lain yang berbeda pendapat bahkan adakalanya mengkafirkan dan menuduhnya ahli neraka? Dijawab dengan tenang oleh kyai itu,saya kurang tahu dalil apa yang dipakai. Kalau seseorang telah menyatakan menerima rukun Islam dan iman, dia tidak berhak disebut kafir. jadi saya tidak bisa menjawab mengapa kita mesti mengafirkan  serta sibuk mengukur kedalam iman sesama muslim, sedang saya sendiri tidak berani menjamin diri saya masuk surga, jadi maaf coba tanyakan saja dengan orang yang suka mengukur-ukur ketakwaan orang.</span></span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:&quot;">Kisah ketiga</span></strong><span style="font-size:10pt;color:black;"><span style="font-family:Arial;">,dalam sebuah riwayat diceritakan suatu hari Rasulullah dan Abu Bakar berjalan bersama.Di tengah jalan, tiba-tiba Abu Bakar dihadang oleh seseorang dan dicai maki, Abu Bakar yang merasa tidak kenal dan tidak merasa bersalah diam saja sambil senyum-senyum,. Abu Bakar tambah bingung melihat Rasulullah juga ikut tersenyum.Setelah orang tadi pergi, Abu Bakar menjawab kelancangan orang tersebut. Pada saat itu Rasululah berhenti tersenyum dan pergi.Esok paginya karena penasaran dengan sikap Rasulullah, Abu Bakar pergi menemui Rasul dan menanyakan hal tersebut. Maka di jawab oleh Rasulullah, ketika engkau tersenyum mendengar cacian orang tersebut, engkau menerima dengan lapang dada karena engkau tidak bersalah, maka akupun ikut tersenyum karena melihat malaikat sibuk memindahkan catatan amal kebaikan orang itu ke dalam dirimu sedang catatan kesalahnmu dipindahkan ke orang itu.</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;"><span style="font-family:Arial;">Nah, komarudin di buku ini mencoba memberikan pesan yang disampaikan dari ketiga kisah tersebut.</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;"><span style="font-family:Arial;">dari <strong><span style="font-family:&quot;">kisah pertama</span></strong>, kita dapat mengambil pelajaran bahwa kebahagiaan dan kemerdekaan berkait erat dengan sikap bathin seseorang.formula to forgive and forget terhadap tragedi masa lalu akan mampu mengubah dunia yang semula gelap gulita dan menyakitkan menjadi terang benderang dan optimistik menapaki hari-hari esok.</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;"><span style="font-family:Arial;">sedang untuk <strong><span style="font-family:&quot;">kisah kedua</span></strong>, kita dapat mengambil pelajaran bahwa hidup ini hendaklah selalu bersangka baik dan rendah hati, Jangan merasa paling beriman dan bertakwa di hadapan orang lain, seperti yang dikatakn sebuah hadis yang kurang lebih isinya, berbahagialah mereka yang disibukkan dengan meneliti kesalahan dan kekurangan diri lalu menutupinya dengan kebajikan daripada sibuk melihat kesalahan oarang lain.</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;"><span style="font-family:Arial;">untuk kisah ketiga, mengajarkan kita untuk bersabar.Jika kita merasa benar, tak perlu takut akan kritik, kecaman, dan fitnah orang lain. Alah Maha Tahu siapa yang benar dan siapa yang salah.Lebih dari itu, mari kita jaga lisan dan hati kita agar tidak mudah menyakiti orang lain.</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;"><span style="font-family:Arial;">Itu tadi kisah-kisah yang saya baca dan membuka mata saya bahwa memang setiap kejadian hidup ini dapat kita ambil hikmahnya, semoga kita selalu dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa dalm rangka menjadikan kita seseorang yang lebih baik&#8230;Amien</span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masalahkeluarga.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masalahkeluarga.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masalahkeluarga.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masalahkeluarga.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masalahkeluarga.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masalahkeluarga.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masalahkeluarga.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masalahkeluarga.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masalahkeluarga.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masalahkeluarga.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masalahkeluarga.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masalahkeluarga.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masalahkeluarga.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masalahkeluarga.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masalahkeluarga.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masalahkeluarga.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masalahkeluarga.wordpress.com&amp;blog=3536392&amp;post=10&amp;subd=masalahkeluarga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/05/04/hikmah-kejadian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5fb2535e7d875839d6968487223525d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Alkayyis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hamillah Tiga Tahun Lagi !!!</title>
		<link>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/04/28/hamillah-tiga-tahun-lagi/</link>
		<comments>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/04/28/hamillah-tiga-tahun-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 06:46:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Alkayyis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masalahkeluarga.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Menjaga jarak kehamilan tak hanya menyelamatkan ibu dan bayi dari sisi kesehatan, namun juga memperbaiki kualitas hubungan psikologis keluarga. Wanita berbaju bunga-bunga itu tampak repot ketika masuk kamar periksa sebuah klinik bersalin di kawasan Bekasi. Langkahnya tergopoh-gopoh. Tangan kanannya memegangi perut buncitnya, sementara tangan kiri menggandeng bocah lelaki berusia setahun. Seorang suster membantu perempuan berusia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masalahkeluarga.wordpress.com&amp;blog=3536392&amp;post=9&amp;subd=masalahkeluarga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Menjaga jarak kehamilan tak hanya menyelamatkan ibu dan bayi dari sisi kesehatan, namun juga memperbaiki kualitas hubungan psikologis keluarga.<!--Fc--> </span><!--FImg--></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><!--Isi-->Wanita berbaju bunga-bunga itu tampak repot ketika masuk kamar periksa sebuah klinik bersalin di kawasan Bekasi. Langkahnya tergopoh-gopoh. Tangan kanannya memegangi perut buncitnya, sementara tangan kiri menggandeng bocah lelaki berusia setahun. Seorang suster membantu perempuan berusia 37 tahun itu. &#8220;Suami saya masih berlayar. Ini jadwal pemeriksaan bulan kedelapan. Biasanya saya periksa dibantu seorang pembantu. Tapi hari ini si bibi mesti di rumah menjaga anak sulung saya berusia tiga tahun yang sakit panas,&#8221; tuturnya dengan suara kelelahan.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span id="more-9"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Mungkin Anda kerap melihat pemandangan ini di lakon-lakon sinetron, namun kenyataannya begitulah yang sering kita temui. Zaman boleh berlalu, teknologi boleh silih berganti memperbarui diri, namun keinginan orang beranak banyak tanpa memperhatikan jarak kelahiran tetap saja mudah ditemukan. Maklum saja, rata-rata orang masa kini menikah pada usia lebih dari 20 tahun. Terkejar oleh faktor usia, dibuatlah pengaturan jarak kelahiran anak secepat mungkin sebelum usia melahirkan si ibu di titik rawan di atas usia 35 tahun. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Beberapa waktu lalu John Hopkins Bloomberg School of Public Health mengeluarkan ringkasan laporan kependudukan. Isinya mengenai tren jarak kelahiran anak yang semakin panjang antara tiga sampai lima tahun. Laporan itu menjelaskan jarak tahun kelahiran panjang ini bermanfaat bagi kesehatan anak maupun ibunya, termasuk menciptakan peluang memaksimalkan pertumbuhan anak. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Laporan itu pun menyinggung beberapa negara seperti Bhutan, Mesir, Kenya, Vietnam, Indonesia, dan Zimbabwe memiliki kecenderungan orangtua segera ingin memiliki anak berikutnya bila anaknya meninggal. Hal ini berbeda bila anak pertamanya tumbuh sehat dan cerdas. Untuk memperkuat laporan itu, berdasarkan data the Demographic and Health Survey (DHS) dari tahun 1990 sampai 2001 membuktikan, wanita cenderung melahirkan kembali anak berikutnya lebih cepat atau kurang dari tiga tahun, jika anak terdahulu meninggal atau kurang sehat seperti yang diharapkan. Data DHS di 46 negara menunjukkan bila anak meninggal, rata-rata jarak kelahiran berikutnya menjadi 60 persen lebih pendek dibandingkan bila anak terdahulunya hidup. Perempuan yang mengalami keguguran biasanya juga ingin cepat kembali memiliki anak. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Penelitian DHS juga menemukan di 55 negara termasuk Indonesia, wanita yang tinggal di pedesaan cenderung memilih jarak kelahiran lebih pendek atau kurang dari tiga tahun. Hal ini disebabkan karena faktor lingkungan di desa yang mendorong segera punya anak kembali. Bila si wanita itu tidak segera hamil kembali maka akan mendapat cemoohan. Biasanya wanita berstatus sosial lebih rendah dan tidak bekerja, memilih jarak melahirkan lebih pendek. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Penelitian ini juga memerinci keberhasilan beberapa negara yang wanitanya berpendidikan lebih tinggi cenderung menggunakan kontrasepsi untuk mengatur jarak kelahiran. Wanita berpendidikan ini umumnya menyadari perlunya mengatur jarak kelahiran. Sebaliknya, di Indonesia wanita yang berpendidikan tinggi umumnya menikah di atas usia 30 tahun. &#8220;Banyak yang memilih jarak pendek untuk melahirkan anak sebelum para wanita berusia 35 tahunan ke atas,&#8221; tutur Wongso Hakim, dokter kebidanan rumah bersalin Asih, Jakarta. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Di mata dokter berusia 55 tahun ini tidak dipungkiri dari aspek kesehatan jarak ideal kelahiran ini sangat bagus untuk ibu dan anak. Ia sangat setuju pada hasil penelitian DHS yang menyebutkan anak-anak yang lahir dengan jarak tiga sampai lima tahun memiliki kemungkinan hidup sehat yang lebih besar. &#8220;Dibandingkan anak-anak yang lahir dengan jarak kelahiran kurang dari dua tahun, maka anak-anak dengan jarak kelahiran ideal ini memiliki kelangsungan hidup lebih baik dan tinggi. Kondisi begini bisa berlangsung sampai si anak berusia balita,&#8221; katanya. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Mengutip temuan penelitian DHS itu, Wongso bersepakat anak yang lahir dengan jarak ini tidak akan menderita kekerdilan atau kekurangan berat badan. Bahkan si anak memiliki nilai gizi yang bagus. Intinya jarak kelahiran ini akan meningkatkan kesehatan ibu dan anak,&#8221; tutur Wongso. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Sementara itu, menurut psikolog Diana Tamrin, dari aspek kejiwaan rentang kelahiran ideal ini memberikan kesempatan orangtua lebih intensif mencurahkan waktu bagi anak pada awal usianya. Pun orangtua akan mendapat waktu banyak buat beraktivitas, membesarkan anak, dan meredakan tekanan finansial atau biaya kebutuhan. Ia menilai jarak kelahiran anak di bawah tiga tahun justru bisa menimbulkan kerepotan mengasuh anak, tekanan ekonomis dan selang waktu pendek kelahiran jelas berisiko buruk terhadap kesehatan balita dan ibunya. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Diana melihat pengalaman yang terjadi di masyarakat, anak-anak yang dilahirkan dengan jarak terlalu rapat biasanya mengalami perkembangan fisik dan mental yang kurang memuaskan, bila dibanding anak-anak yang jarak kelahirannya tiga sampai lima tahun. &#8220;Aspek fisiknya bagi si ibu yang melahirkan berjarak terlalu rapat cepat lelah, gampang sakit, dan mudah stres. Apalagi bila si ibu memiliki dua atau tiga anak dengan rentan usia kelahiran yang pendek bisa merepotkan emosinya mengasuh, memelihara dan mendidik anak,&#8221; katanya mencontohkan. Bila kondisi ekonominya bagus si ibu bisa membayar beberapa pembantu atau pengasuh. Toh, tetap saja aspek kejiwaan si ibu harus bersalto dalam membagi peran untuk memahami perkembangan jiwa anak-anaknya itu. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Pengasuh rubrik psikologi keluarga di media cetak ini juga menyebutkan bagi si anak berusia di bawah dua tahun, kelahiran atau kehadiran si adik justru menjadi salah satu ancaman terbesar terhadap kesehatan dan pertumbuhannya. Dengan kelahiran baru itu, penyusuan ibu terhadap si abang atau kakak tadi terpaksa dihentikan. Bahkan ada juga ibu yang kemudian tidak memiliki cukup waktu untuk menyediakan makanan yang diperlukan bagi anak-anaknya. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Selain itu, jarak kelahiran yang terlalu dekat bisa menimbulkan rasa cemburu pada si kakak yang belum siap berbagi kasih sayang orangtuanya. &#8220;Banyak kakak-beradik dengan jarak kelahiran terlalu pendek menimbulkan sikap iri atau cemburu. Si kakak tidak gembira atas kehadiran si kecil. Justru si kakak sering menganggapnya musuh karena merampas jatah kasih sayangnya.&#8221; </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Selain kesehatan dan kejiwaan, aspek ekonomi juga tak kalah penting. Diana menyebutkan, semakin banyak keluarga yang merancang kelahiran anak dengan matang karena faktor ekonomi untuk biaya persalinan, perawatan, pemeliharaan, kesehatan, keperluan sekolah termasuk menyiapkan masa depan anak. &#8220;Memiliki anak bagi pasangan suami-istri saat ini seperti investasi mahal. Kita harus punya cukup punya modal materi dan spiritual untuk menyambut kehadirannya,&#8221; katanya. Kalau tidak direncanakan terutama soal penyiapan dananya bisa juga berakibat fatal. &#8220;Ada gurauan, punya anak zaman sekarang mahal, jadi harus pintar mengatur jarak kelahirannya karena berarti harus putar otak juga untuk persiapan finansialnya,&#8221; ucap Diana mengingatkan. (hadriani p)</span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"></span></p>
<p><strong><span style="font-size:7.5pt;color:#ff8000;font-family:&quot;">sumber: Kliniknet</span></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masalahkeluarga.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masalahkeluarga.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masalahkeluarga.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masalahkeluarga.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masalahkeluarga.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masalahkeluarga.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masalahkeluarga.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masalahkeluarga.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masalahkeluarga.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masalahkeluarga.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masalahkeluarga.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masalahkeluarga.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masalahkeluarga.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masalahkeluarga.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masalahkeluarga.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masalahkeluarga.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masalahkeluarga.wordpress.com&amp;blog=3536392&amp;post=9&amp;subd=masalahkeluarga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/04/28/hamillah-tiga-tahun-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5fb2535e7d875839d6968487223525d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Alkayyis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peer Pressure Vs Peer Motivation</title>
		<link>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/04/28/peer-pressure-vs-peer-motivation/</link>
		<comments>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/04/28/peer-pressure-vs-peer-motivation/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 06:43:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Alkayyis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masalahkeluarga.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Heri Susanto PKBI DKI Jakarta Suka atau enggak, begitu banyak persoalan yang kita hadapi sebagai remaja. Mulai dari masalah yang paling umum, sederhana, tapi juga sekaligus ”rumit”, yaitu seputar kisah asmara, sampai masalah-masalah yang bergesekan dengan hukum dan tatanan sosial yang berlaku di sekitar kita. Secara sadar, tentu kita enggak pernah menginginkannya. Namun kenyataannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masalahkeluarga.wordpress.com&amp;blog=3536392&amp;post=8&amp;subd=masalahkeluarga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Oleh: Heri Susanto</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> <em><span style="font-family:&quot;">PKBI DKI Jakarta</span></em> </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Suka atau enggak, begitu banyak persoalan yang kita hadapi sebagai remaja. Mulai dari masalah yang paling umum, sederhana, tapi juga sekaligus ”rumit”, yaitu seputar kisah asmara, sampai masalah-masalah yang bergesekan dengan hukum dan tatanan sosial yang berlaku di sekitar kita. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Secara sadar, tentu kita enggak pernah menginginkannya. Namun kenyataannya sh*t happens. Ada aja kejadian yang menggiring kita ke arah sana. Alasannya macam-macam. Misalnya, dengan tujuan untuk menunjukkan solidaritas antarteman, mendapatkan pengakuan dari kelompok, atau untuk menunjukkan identitas diri. Bisa juga untuk menunjukkan kemandirian, meminta pembuktian cinta, dan lain sebagainya. The problem is, banyak yang mengambil pilihan solusi yang salah.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span id="more-8"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Ujung-ujungnya malah jadi dianggap melakukan ”kenakalan-kenakalan”. Kayak tawuran, nge-drugs, malak, bolos sekolah, kekerasan dalam pacaran, pemerkosaan terhadap teman atau bahkan pacar, bersikap konfrontatif terhadap orangtua, dan lain-lain.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Memang banyak ahli psikologi yang menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa yang penuh masalah, penuh gejolak, penuh risiko (secara psikologis), over energi, dan lain sebagainya, yang disebabkan oleh aktifnya hormon-hormon tertentu.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Masalahnya, apa yang dibilang para ahli itu justru menggiring sebagian kita pada pemahaman bahwa keadaan atau perilaku tersebut adalah sebuah kewajaran baru. Yang akan tetap lestari dari generasi ke generasi. Waduh! Ngeri dong?</span></p>
<p><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">”Peer pressure”</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Minat untuk berkelompok menjadi bagian dari proses tumbuh kembang yang kita alami. Yang dimaksud di sini bukan sekadar kelompok biasa, melainkan sebuah kelompok yang memiliki kekhasan orientasi, nilai-nilai, norma, dan kesepakatan yang secara khusus hanya berlaku dalam kelompok tersebut. Atau yang biasa disebut geng. Biasanya kelompok semacam ini memiliki usia sebaya atau bisa juga disebut peer group.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Demi geng ini kita sering kali dengan rela hati mau melakukan dan mengorbankan apa pun hanya karena sebuah kata-kata ”sakti”, yaitu solidaritas. Luar biasa memang jika geng ini memiliki arah kemudi yang tepat sehingga bisa menjadi wadah positif bagi kita. Tapi yang menjadi persoalan adalah terkadang solidaritas di antara kita itu bersifat semu, buta, dan destruktif, yang malah mencederai makna solidaritas itu sendiri.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Demi alasan solidaritas, sebuah geng sering kali memberikan tantangan atau tekanan-tekanan kepada anggota kelompoknya (peer pressure) yang terkadang berlawanan dengan hukum atau tatanan sosial yang ada. Tekanan itu bisa saja berupa paksaan untuk menggunakan narkoba, mencium pacar, melakukan hubungan seks, melakukan penodongan, bolos sekolah, tawuran, merokok, corat-coret tembok, dan masih banyak lagi.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Secara individual, awalnya kita mungkin merasa enggak nyaman melakukan ”tantangan” itu. Tapi karena ada peer pressure, plus rasa ketidakberdayaan untuk meninggalkan kelompok, serta ketidakmampuan untuk mengatakan ”tidak”, akhirnya apa pun yang dikehendaki kelompok secara terpaksa dilakukan. Lama-kelamaan menjadi kebiasaan dan akhirnya melekat menjadi sebuah karakter yang diwujudkan dalam berbagai macam perilaku negatif.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Peer pressure tidak hanya bisa diperoleh dari kelompok, tapi bisa juga dari individu, walaupun biasanya tekanan dari individu tidak lebih berat dari tekanan kelompok. Dari individu maupun kelompok, peer pressure dapat berpengaruh buruk dalam kehidupan kita, bisa dalam bentuk perubahan perilaku negatif atau pengaruh psikologis seperti rasa takut, sedih, minder, dan cemas, yang tentunya akan memengaruhi pencitraan orang lain terhadap kita.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">”Peer motivation”</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Hidup adalah sebuah pilihan. Jika kita mau melihat ke berbagai sisi dalam menjalani berbagai pernak-pernik kehidupan kita, kita akan selalu menemukan alternatif untuk segala hal, termasuk mau diarahkan ke mana pola pergaulan kita.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Kelompok atau teman sebaya memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menentukan arah hidup kita. Jika kita berada dalam lingkungan pergaulan yang penuh dengan ”energi negatif” seperti yang terurai di atas, segala bentuk sikap, perilaku, dan tujuan hidup kita menjadi negatif. Sebaliknya, jika kita berada dalam lingkungan pergaulan yang selalu menyebarkan ”energi positif”, yaitu sebuah kelompok yang selalu memberikan motivasi, dukungan, dan peluang untuk mengaktualisasikan diri secara positif kepada semua anggotanya, kita juga akan memiliki sikap yang positif. Prinsipnya, perilaku kelompok itu bersifat menular.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Motivasi dalam kelompok (peer motivation) adalah salah satu contoh energi yang memiliki kekuatan luar biasa, yang cenderung melatarbelakangi apa pun yang kita lakukan. Dalam konteks motivasi yang positif, seandainya ini menjadi sebuah budaya dalam geng, barangkali tidak akan ada lagi kata-kata ”kenakalan remaja” yang dialamatkan kepada kita. Lembaga pemasyarakatan juga tidak akan lagi dipenuhi oleh penghuni berusia produktif, dan di negeri tercinta ini akan semakin banyak orang sukses berusia muda. Kita juga tidak perlu lagi merasakan peer pressure, yang bisa bikin kita stres.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Budaya dalam geng tentunya tidak dapat diubah dengan sim salabim abra kadabra. Perlu komitmen yang besar dari masing-masing individu yang terlibat dalam kelompok tersebut. Semua berawal dari niat yang baik untuk selalu menjadi lebih baik. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk memulai.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Pertama, berpikir positif. Segala bentuk sikap dan perilaku kita adalah perwujudan dari apa yang kita pikirkan. Jadi, dengan kata lain, perlakuan kita terhadap orang lain bergantung pada penilaian kita terhadap orang tersebut. Jika kita memiliki penilaian yang positif terhadap seseorang di antara sekian anggota geng yang lain, kita akan cenderung bersikap baik terhadap orang tersebut dan cenderung menolerir setiap kesalahan yang diperbuatnya. Begitu pula sebaliknya kita akan banyak melihat banyak kesalahan pada orang yang tidak kita sukai.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Nah, kalau kondisinya sudah seperti ini, biasanya akan ada ”tumbal” yang selalu jadi korban dalam sebuah geng, yaitu orang yang paling dipandang negatif. Di samping itu, cara pandang yang positif terhadap masing-masing anggota kelompok juga penting. Prinsipnya dianggap orang baik adalah kebutuhan semua orang. Jika kebutuhan itu terpenuhi, maka akan dapat meningkatkan citra diri yang positif masing-masing individu, dan itu akan berdampak pada perilaku yang positif pula.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Kedua, tentukan tujuan. Untuk apa geng itu dibentuk harus benar-benar memiliki tujuan jelas sehingga energi kita tersalurkan pada hal-hal yang terarah dan tidak terbuang sia-sia. Masing-masing anggota akan tahu apa yang harus dilakukan dan tentunya akan lebih produktif. Sebagai analogi, sebuah coretan tembok yang memiliki tujuan dan konsep yang jelas justru akan dapat memperindah suasana kota. Bahkan terkadang memiliki pesan-pesan yang bermakna. Sebaliknya, coretan-coretan yang asal-asalan justru akan menimbulkan kesan kumuh dan tentunya tidak indah. Pekerjaan yang sama akan memberikan hasil yang berbeda hanya karena tujuannya berbeda. Begitu pula dengan kelompok. So&#8230;, apa tujuan kita nge-geng?</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Ketiga, dukungan kelompok. Masing-masing anggota kelompok harus bisa memberikan dukungan yang positif terhadap anggotanya, bukan malah saling memojokkan. Berikan semangat bagi yang melakukan kegagalan agar bisa memperbaiki, karena kegagalan adalah separuh perjalanan menuju sukses, dan berikan apresiasi yang tulus kepada yang berhasil memperbaiki dan melakukan kebaikan, sekecil apa pun prestasinya.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Seandainya selama ini kita selalu memberikan dukungan kepada teman kita kepada hal-hal yang lebih negatif dan kita selalu menganggapnya hebat jika teman kita mampu menyelesaikan hal ”konyol” dan ”bodoh”, kita harus berubah. Dukungan positif tidak hanya bermanfaat untuk orang lain, tapi juga mampu memberikan semangat kepada diri kita karena kita juga akan merasa terpacu. Di samping itu, dukungan positif juga penting untuk menjaga agar geng tetap terus bergerak secara energik dalam mencapai tujuan.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:11pt;color:#ff9900;font-family:&quot;">Sumber: Harian Kompas, Jumat, 07 April 2006</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masalahkeluarga.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masalahkeluarga.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masalahkeluarga.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masalahkeluarga.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masalahkeluarga.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masalahkeluarga.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masalahkeluarga.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masalahkeluarga.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masalahkeluarga.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masalahkeluarga.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masalahkeluarga.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masalahkeluarga.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masalahkeluarga.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masalahkeluarga.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masalahkeluarga.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masalahkeluarga.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masalahkeluarga.wordpress.com&amp;blog=3536392&amp;post=8&amp;subd=masalahkeluarga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/04/28/peer-pressure-vs-peer-motivation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5fb2535e7d875839d6968487223525d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Alkayyis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita Cinta Abadi</title>
		<link>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/04/28/cerita-cinta-abadi/</link>
		<comments>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/04/28/cerita-cinta-abadi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 06:41:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Alkayyis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masalahkeluarga.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Achmanto Mendatu Anda sudah menonton film ‘Troya’ yang mengisahkan tentang pertempuran antara Kerajaan Troya dan Sparta pada masa Yunani kuno? Film itu dibintangi oleh Brad Pitt. Jika anda belum menontonnya, tontonlah. Film itu salah satu film kolosal terbaik yang pernah ada. Dikisahkan dalam film itu, Paris, sang pangeran Troya jatuh cinta kepada Helen, ratu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masalahkeluarga.wordpress.com&amp;blog=3536392&amp;post=7&amp;subd=masalahkeluarga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:16.8pt;margin:0;"><span style="color:#444444;font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Oleh Achmanto Mendatu</p>
<p>Anda sudah menonton film ‘Troya’ yang mengisahkan tentang pertempuran antara Kerajaan Troya dan Sparta pada masa Yunani kuno? Film itu dibintangi oleh Brad Pitt. Jika anda belum menontonnya, tontonlah. Film itu salah satu film kolosal terbaik yang pernah ada. Dikisahkan dalam film itu, Paris, sang pangeran Troya jatuh cinta kepada Helen, ratu Sparta, yang konon merupakan wanita tercantik di seluruh Yunani. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Helen juga jatuh cinta pada Paris. Apalagi Helen merasakan penderitaan selama perkawinan dengan suaminya, Meleneaus. Paris dianggap Helen sebagai ‘cinta’ yang memberi kesegaran dalam penderitaannya. Lalu, Paris melarikan Helen ke Troya. Akibatnya Sparta murka. Lalu dikirimkanlah armada untuk menaklukan Troya. Sebanyak 50 ribu prajurit dengan 1000 kapal yang merupakan kekuatan gabungan seluruh kerajaan taklukan Sparta, berlayar ke Troya untuk mengambil kembali Helen, sekaligus untuk membuat Troya takluk dibawah kekuasaan Sparta. Kisah cinta kemudian berbaur menjadi kisah tentang kekuasaan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16.8pt;margin:0;"><span style="color:#444444;font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"><span id="more-7"></span></p>
<p>Film ‘Troya’ merupakan adaptasi dari kisah ‘Odysseus’ karya Homer, salah satu sejarawan Yunani kuno yang dianggap sebagai bapak sejarawan. Kisah perang troya diyakini sebagian orang sungguh-sungguh terjadi. Penggalian arkeologis memang membuktikan adanya reruntuhan tembok kota Troya. Namun legenda dalam film Troya hampir pasti tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Lagipula legenda tersebut hanya merupakan salah satu versi dari beberapa versi yang dikembangkan dari karya Homer.</p>
<p>Ada sebuah legenda kisah cinta lagi yang sangat menarik dari peradaban Yunani Kuno, yakni kisah Oedipus Sang Raja, karya Sopochles, dramawan yang dianggap sebagai bapak drama. Sampai kini karya drama itu selalu dipentaskan dimana-mana diseluruh penjuru dunia. Konon, seseorang belum dianggap mampu memainkan teater apabila belum bisa mementaskan ‘Oedipus Sang Raja’ dengan sempurna.</p>
<p>Oedipus adalah putra tertua raja Laius dan Jocasta, penguasa kerajaan Thebes. Ia dibuang oleh sang raja ketika masih bayi karena ramalan memberitahukan bahwa anak tersebut akan membunuhnya jika sudah dewasa. Lebih dari itu ia juga diramalkan akan menikahi ibunya. Namun ternyata Oedipus tidak mati ketika dibuang. Ia ditemukan oleh seorang petani yang lalu menyerahkannya kepada salah seorang pegawai kerajaan Corinthus. Oleh pegawai tersebut, sang bayi diserahkan kepada raja kerajaan Corinthus dan diangkat sebagai anak. Ia dibesarkan sebagai putra raja. Sampai suatu saat Oedipus merasa ragu dengan asal-usulnya. Akhirnya bertanyalah ia pada peramal mengenai nasib dirinya. Sang peramal memperingatkannya agar pergi meninggalkan tanah airnya karena ia ditakdirkan untuk membunuh ayahnya. Maka pergilah Oedipus dari kerajaan yang disangkanya sebagai tanah airnya.</p>
<p>Dalam perjalanan, ia bertemu dengan rombongan dari kerajaan Thebes. Karena sesuatu hal ia mengamuk dan membunuh rombongan itu termasuk seorang tua yang sesungguhnya merupakan Raja Laius. Ramalan pertama telah terbukti. Namun Oedipus tidak mengetahuinya. Kemudian pergilah ia ke Thebes, yang sesungguhnya merupakan tanah airnya. Setelah berhasil memecahkan teka-teki sphinx yang memagari kota itu, ia kemudian masuk kota dan bahkan diangkat sebagai raja dan berhak menikah dengan Jocasta. Dia berkuasa bertahun-tahun lamanya dan berhasil membuat Thebes aman, damai, dan sejahtera. Oedipus sangat mencintai istrinya, pun begitu Jocasta. Hasil perkawinan dengan Jocasta, menghasilkan empat orang anak. Namun kemudian diketahui bahwa ternyata Oedipus adalah anak Jocasta. Akibatnya Jocasta bunuh diri karena kepedihan hatinya, sedangkan Oedipus menusuk kedua matanya sendiri lalu meninggalkan kerajaan.</p>
<p>Kisah kuno lain tentang cinta yang akan terus diingat orang, terutama oleh pemeluk agama Abrahamik (Yahudi, Kristen dan Islam) adalah kisah Yusuf. Diceritakan bahwa Yusuf adalah laki-laki tertampan di muka bumi. Oleh karena itu ibu angkatnya yang merupakan istri gubernur mesir jatuh cinta kepadanya. Sang ibu angkat berhasrat kepada Yusuf dan berusaha menggodanya. Berita itu kemudian tersebar ke seluruh kota dan membuat ibu angkat Yusuf merasa malu. Oleh karena itu diundanglah para istri pembesar kerajaan ke rumahnya. Ketika istri-istri pembesar sedang mengiris buah dengan pisau, Yusuf diminta keluar. Tatkala melihat Yusuf, istri-istri pembesar itu terpana dan tanpa sadar mengiris jari-jari mereka. Lalu Yusuf masuk ke dalam. Baru setelah itu istri-istri pembesar iu terpekik kesakitan menyadari jari tangannya teriris. Berkatalah ibu angkat Yusuf, “kalau kalian saja yang baru melihat sekali sampai mengiris tangan, bagaimana denganku yang melihatnya setiap hari?”</p>
<p>Masih dari Mesir, terdapat sebuah kisah cinta yang sangat terkenal yakni kisah cinta ratu Cleopatra dengan Marc Anthony. Ratu Cleopatra, kita tahu, merupakan wanita yang menurut kisah memiliki hidung tercantik didunia. Hidungnya pula yang membuat Marc Anthony tunduk. Namun berbeda dengan yang digambarkan dalam film-film yang menampilkan sosok Cleopatra yang ramping, disinyalir kuat dia sebenarnya bertubuh tambun. Hal itu disimpulkan dari temuan patung Cleopatra yang ternyata gemuk bukannya ramping. Adapun Marc Anthony adalah rekan Julius Caesar, sang kaisar Romawi, ketika menaklukan Mesir. Diceritakan bahwa Marc Anthony, demi cintanya kepada Cleopatra, rela memberontak kepada Julius Caesar. Akibatnya Julius Caesar marah dan menyerang Mesir. Lalu Marc Anthony dan Cleopatra bunuh diri bersama.</p>
<p>Pada masa kekaisaran Romawi, dipercaya bahwa pada saat itu adalah hal yang biasa apabila seorang kakak menikahi adiknya. Kaisar-kaisar Romawi diberitakan selalu menikahi saudara perempuannya. Hal itu dilakukan untuk terus dapat memurnikan darah raja. Dalam film pemenang piala oscar, ‘Gladiator’, yang diperankan Russel Crowe, terlihat bagaimana sang raja jatuh cinta dan ingin memperistri kakak perempuannya. Ia berkeinginan untuk menikahi kakaknya demi tujuan menjaga darah rajanya</p>
<p>Dari peradaban dunia kuno lainnya, India, muncul kisah-kisah cinta seperti yang terangkai dalam kitab kuno ‘Mahabbharata’ dan ‘Ramayana’. Misalnya didalam ‘Mahabharata’ terdapat kisah Arjuna dengan berbagai petualangan cintanya. Diceritakan bahwa Arjuna adalah seorang ksatria tampan namun mudah jatuh cinta. Oleh karena itu ia memiliki banyak istri yang tersebar dimana-mana. Sedangkan didalam ‘Ramayana’ terdapat kisah cinta Rama dan Sinta, yakni kisah pencarian Rama mencari Sinta yang diculik oleh raja raksasa, Rahwana.</p>
<p>Masih banyak kisah dari abad-abad kuno yang menceritakan kisah cinta. Semua itu membuktikan bahwa cinta telah menjadi perhatian manusia sejak ribuan tahun silam. Bahkan dalam mitologi Yunani-Romawi kuno ada dewa cinta yang disebut Amor. Hal itu membuktikan bahwa cinta telah mempengaruhi orang dari masa itu. Mereka ingin menjelaskan cinta yang dialami. Namun karena sedemikian kuatnya pengaruh cinta dalam kehidupan mereka, maka cinta dibawa ke dunia ilahiah, yakni dunia Dewa. Cinta dianggap sesuatu yang indah dan sakral, dan oleh karena itu pastilah ia berasal dari dunia Dewa.</p>
<p>Pada abad-abad masehi, kisah cinta semakin banyak bermunculan. Salah satu kisah cinta yang bentuk konkretnya dapat dilihat hingga sekarang adalah kisah Mumtaz Mahal dan Syah Jehan. Cinta mereka dimonumenkan dalam wujud bangunan megah yang dikenal sebagai Taj Mahal, di Agra, India. Saat ini Taj Mahal merupakan salah satu bangunan yang dikategorikan sebagai warisan dunia dan bahkan digolongkan sebagai keajaiban dunia.</p>
<p>Syah Jehan adalah sultan kelima dari kerajaan Islam Mughal di India. Ia menikah dengan Mumtaz Mahal yang bernama asli Arjanumd Banu Begam, pada tahun 1612. Dikisahkan bahwa Syah Jehan sangat mencintai istrinya. Ia tidak dapat tidur tanpa melihat istrinya terlebih dahulu. Namun sayangnya, pada tahun 1931, pada saat melahirkan anak ke-14, sang permaisuri meninggal. Sebagai bentuk penghormatan dan perwujudan rasa cintanya, Shah Jehan membangun Taj Mahal di tepi sungai Yamuna, Agra, India. Pembangunan itu berlangsung selama 23 tahun, dari tahun 1631 sampai 1653. Arsitekturnya dirancang oleh arsitek Iran terkemuka pada masa itu, Isa. Pembangunannya melibatkan 20.000 tenaga kerja dan 1000 ekor gajah pengangkut bangunan marmer.</p>
<p>Dari negeri sendiri, ada juga kisah cinta yang perwujudannya masih bisa dilihat saat ini dalam bentuk candi Prambanan, yakni kisah Loro Jonggrang dan Bandung Bandawasa. Diceritakan bahwa Bandung Bandawasa jatuh cinta pada Loro Jonggrang, namun Loro Jonggrang menolak. Sayangnya, Bandung Bandawasa merupakan orang sakti sehingga penolakan tidak mungkin disampaikan secara langsung. Oleh karena itu Loro Jonggrang meminta persyaratan berat pada Bandung untuk diterima, yakni membangun seribu candi selama semalam. Tapi dasar orang sakti, permintaan itu disanggupinya. Menjelang fajar, seribu candi yang diminta Loro Jonggrang hampir selesai. Loro Jonggrang pun was-was kalau benar-benar 1000 candi itu selesai dibangun sebelum pagi tiba. Ia lantas meminta penduduk untuk menumbuk padi di lesung agar ayam berkokok. Benarlah, ayam-ayam lalu berkokok. Bandung Bandawasa yang mengira hari sudah pagi sangat kesal. Ia merasa gagal. Padahal candi yang diselesaikannya sudah 999 buah. Namun pada akhirnya diketahui bahwa kokok ayam itu hanya akal-akalan Loro Jonggrang. Bandung sangat murka. Loro Jonggrang dikutuk jadi patung yang melengkapi candinya sehingga lengkap menjadi 1000 buah. Patung itu kemudian dikenal sebagai patung Pradnya Paramita, yang sampai saat ini masih bisa dilihat di candi Prambanan.</p>
<p>Cerita Loro Jonggrang mungkin tidak memiliki akar realitas, tapi setidaknya kisah itu menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia, khususnya Jawa telah menaruh perhatian terhadap cinta sejak lama. Kita tahu, beberapa etnik yang lain juga memiliki kisah cinta. Misalnya dari ranah minangkabau ada kisah cinta ‘cindur mato’. Dari tatar sunda ada kisah ‘sangkuriang’ yang memiliki kemiripan dengan kisah ‘oedipus sang raja’. Hampir setiap kebudayaan di dunia memiliki cerita rakyatnya sendiri mengenai cinta romantik.</span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masalahkeluarga.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masalahkeluarga.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masalahkeluarga.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masalahkeluarga.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masalahkeluarga.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masalahkeluarga.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masalahkeluarga.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masalahkeluarga.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masalahkeluarga.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masalahkeluarga.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masalahkeluarga.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masalahkeluarga.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masalahkeluarga.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masalahkeluarga.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masalahkeluarga.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masalahkeluarga.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masalahkeluarga.wordpress.com&amp;blog=3536392&amp;post=7&amp;subd=masalahkeluarga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/04/28/cerita-cinta-abadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5fb2535e7d875839d6968487223525d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Alkayyis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ayah Itu Menakjubkan…!</title>
		<link>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/04/28/ayah-itu-menakjubkan%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/04/28/ayah-itu-menakjubkan%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 01:24:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Alkayyis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ayah]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masalahkeluarga.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun &#8211; dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya. Ayah hanya menyuruhmu mengerjakan pekerjaan yang kamu sukai. Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar. Ayah tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masalahkeluarga.wordpress.com&amp;blog=3536392&amp;post=6&amp;subd=masalahkeluarga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:&quot;">Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun &#8211; dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Ayah hanya menyuruhmu mengerjakan pekerjaan yang kamu sukai. Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar. Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2404/2447796680_f746c79703_m.jpg" alt="Father and Son" width="160" height="240" /></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span id="more-6"></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><br />
Ayah selalu tepat janji!</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Dia akan memegang janjinya untuk membantu seorang teman, meskipun ajakanmu untuk pergi memancing sebenarnya lebih menyenangkan. Ayah akan tetap memasang kereta api listrik mainanmu selama bertahun-tahun, meskipun kamu telah bosan, karena ia tetap ingin kamu main kereta api itu.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:&quot;">Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain dengan teman-teman mereka, karena dia sadar itu adalah akhir masa kecil mereka. Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil (mengandungmu), tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi. Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan diapun bisa meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil, seperti mengapung di atas air setelah ia melepaskanya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia membantu kamu mencarinya. Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman-temanmu dia tampak lucu dan menyayangi. Ayah sulit menghadapi rambutnya yang mulai menipis….jadi dia menyalahkan tukang cukurnya menggunting terlalu banyak di puncak kepala *_~ Ayah akan selalu memelihara janggut lebatnya, meski telah memutih, agar kau bisa “melihat” para malaikat bergelantungan di </span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:&quot;">sana dan agar kau selalu bisa mengenalinya.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:&quot;">Ayah selalu senang membantumu menyelesaikan PR, kecuali PR matematika terbaru. Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur hidup. Ayah benar-benar senang membantu seseorang…tapi ia sukar meminta bantuan. Ayah terlalu lama menunda untuk membawa mobil ke bengkel, karena ia<br />
merasa dapat memperbaiki sendiri segalanya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Ayah di dapur. Membuat memasak seperti penjelajahan ilmiah. Dia punya rumus-rumus dan formula racikannya sendiri, dan hanya dia sendiri yang mengerti bagaimana menyelesaikan persamaan-persamaan rumit itu. Dan hasilnya?… .mmmmhhh…”tidak terlalu mengecewakan” ^_~ Ayah akan sesumbar, bahwa dirinyalah satu-satunya dalam keluarga yang dapat memasak tumis kangkung rasa barbecue grill. *_~</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Ayah mungkin tidak pernah menyentuh sapu ketika masih muda, tapi ia bisa belajar dengan cepat.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Ayah sangat senang kalau seluruh keluarga berkumpul untuk makan malam…walaupun harus makan dalam remangnya lilin karena lampu mati.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untukmembuatmu senang tapi tidak takut. </span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Ayah akan memberimu tempat duduk terbaik dengan mengangkatmu dibahunya, ketika pawai lewat.<br />
Ayah tidak akan memanjakanmu ketika kamu sakit, tapi ia tidak akan tidur semalaman. Siapa tahu kamu membutuhkannya.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Ayah menganggap orang itu harus berdiri sendiri, jadi dia tidak mau memberitahumu apa yang harus kamu lakukan, tapi ia akan menyatakan rasa tidak setujunya. Ayah percaya orang harus tepat waktu. karena itu dia selalu lebih awal menunggumu di depan rumah dengan sepeda tuanya, untuk mengantarkanmu di hari pertama masuk sekolah</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">AYAH ITU MURAH HATI…..<br />
Ia akan melupakan apa yang ia inginkan, agar bisa memberikan apa yang kamu butuhkan…..<br />
Ia membiarkan orang-orangan sawahmu memakai sweater kesayangannya…..<br />
Ia membelikanmu lollipop merk baru yang kamu inginkan, dan ia akan menghabiskannya kalau kamu tidak suka…..<br />
Ia menghentikan apa saja yang sedang dikerjakannya, kalau kamu ingin bicara…<br />
Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar SPP-mu tiap semester, meskipun kamu tidak pernah membantunya menghitung berapa banyak kerutan di dahinya….<br />
Bahkan dia akan senang hati mendengarkan nasehatmu untuk menghentikan kebiasaan merokoknya.. ..<br />
Ayah mengangkat beban berat dari bahumu dengan merengkuhkan tangannya di sekeliling beban itu….<br />
Ayah akan berkata, &#8220;Tanyakan saja pada ibumu?” Ketika ia ingin berkata, &#8220;tidak.”<br />
Ayah tidak pernah marah, tetapi mukanya akan sangat merah padam ketika anak gadisnya menginap di rumah teman tanpa izin.<br />
Dan diapun hampir tidak pernah marah, kecuali ketika anak lelakinya kepergok menghisap rokok di kamar mandi.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Ayah mengatakan, &#8220;Tidak apa-apa mengambil sedikit resiko asal kamu sanggup kehilangan apa yang kamu harapkan.”<br />
Pujian terbaik bagi seorang ayah adalah ketika dia melihatmu melakukan sesuatu persis seperti caranya….<br />
Ayah lebih bangga pada prestasimu, daripada prestasinya sendiri….<br />
Ayah hanya akan menyalamimu ketika pertama kali kamu pergi merantau meningalkan rumah, karena kalau dia sampai memeluk mungkin ia tidak akan pernah bisa melepaskannya.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Ayah mengira seratus adalah tip..<br />
Seribu adalah uang saku..<br />
Gaji pertamamu terlalu besar untuknya…<br />
Ayah tidak suka meneteskan air mata ….<br />
Ketika kamu lahir dan dia mendengar kamu menangis untuk pertama kalinya, dia sangat senang sampai-sampai keluar air dari matanya (ssst..tapi sekali lagi ini bukan menangis). Ketika kamu masih kecil, ia bisa memelukmu untuk mengusir rasa takutmu… Ketika kau mimpi akan dibunuh monster… tapi…..ternyata dia bisa menangis dan tidak bisa tidur sepanjang malam, ketika anak gadis kesayangannya di rantau tak memberi kabar selama hampir satu bulan.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Kalau tidak salah ayah pernah berkata : ”Kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkwalitas tinggi, janganlah mencarinya di pasar apalagi ditukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai besinya. Begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu, jika kau ingin<br />
mendapatkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakannya.”</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Untuk masa depan anak lelakinya, Ayah berpesan: &#8220;Jadilah lebih kuat dan tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari ibumu, berikan yang lebih baik untuk menantu dan<br />
cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku beri padamu.”<br />
Dan Untuk masadepan anak gadisnya ayah berpesan : ”Jangan cengeng meski kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak! laki-laki yang lebih bisa<br />
melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kau gantikan posisi Ayah di hatimu.”</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Ayah bersikeras,bahwa anak-anakmu kelak harus bersikap lebih baik daripada kamu dulu….<br />
Ayah bisa membuatmu percaya diri…<br />
karena ia percaya padamu…<br />
Ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia hanya mencoba melakukan yang terbaik….<br />
Dan terpenting adalah…<br />
Ayah tidak pernah menghalangimu untuk mencintai Alloh, bahkan dia akan membentangkan seribu jalan agar kau dapat menggapai cintaNya, karena diapun mencintaimu karena cintaNya.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Jazakallah bil jannah untuk setiap peluh yang kau teteskan, untuk setiap kerut dahimu yang tak sempat kuhitung, untuk setiap jaga sepanjang malam ketika aku sakit dan ketika kau merindukanku, untuk<br />
tumis kangkung paling lezat sedunia, untuk tempat duduk terbaik di bahumu yang begitu kekar ketika aku ingin melihat pawai, untuk tetes “air mata laki-laki“ yang begitu mahal ketika kau khawatirkan aku,<br />
untuk kepercayaanmu padaku, meski seringkali ku khianati.<br />
Tak akan pernah bisa terbalas segalanya, kecuali dengan……. jazakallah bil jannah, ” semoga Allah mengganti semuanya dengan syurga, semoga bisa kubayar dengan syurga yang Alloh beri, semoga……..”<br />
Dan untuk semua yang sedang merindukan Ayah, ssssssssttt. ..! </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Tau gak siii? Ternyata ayah itu benar-benar MENAKJUBKAN</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masalahkeluarga.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masalahkeluarga.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masalahkeluarga.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masalahkeluarga.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masalahkeluarga.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masalahkeluarga.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masalahkeluarga.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masalahkeluarga.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masalahkeluarga.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masalahkeluarga.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masalahkeluarga.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masalahkeluarga.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masalahkeluarga.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masalahkeluarga.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masalahkeluarga.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masalahkeluarga.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masalahkeluarga.wordpress.com&amp;blog=3536392&amp;post=6&amp;subd=masalahkeluarga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/04/28/ayah-itu-menakjubkan%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5fb2535e7d875839d6968487223525d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Alkayyis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm3.static.flickr.com/2404/2447796680_f746c79703_m.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Father and Son</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membentuk Konsep Diri Anak</title>
		<link>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/04/21/membentuk-konsep-diri-anak/</link>
		<comments>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/04/21/membentuk-konsep-diri-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 07:34:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Alkayyis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masalahkeluarga.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Kita sering melihat dan membaca istilah “harga diri”. Tingkah laku yang suka mengganggu di kalangan anak-anak, bahkan tingkah laku karena gangguan emosi yang terdapat di kalangan orang dewasa, menurut para ahli, berakar dari kurangnya rasa harga diri. Tetapi apakah sebenarnya harga diri itu ? Apakah yang dapat dicapai oleh harga diri itu ? Dan dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masalahkeluarga.wordpress.com&amp;blog=3536392&amp;post=5&amp;subd=masalahkeluarga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Kita sering melihat dan membaca istilah “harga diri”. Tingkah laku yang suka mengganggu di kalangan anak-anak, bahkan tingkah laku karena gangguan emosi yang terdapat di kalangan orang dewasa, menurut para ahli, berakar dari kurangnya rasa harga diri. Tetapi apakah sebenarnya harga diri itu ? Apakah yang dapat dicapai oleh harga diri itu ? Dan dari manakah<br />
asal mulanya perasaan-perasaan itu, terutama perasaan yang terdapat pada anak-anak ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;"><span id="more-5"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Secara sederhana dapat dikatakan bahwa rasa harga diri itu merupakan pikiran dan keyakinan yang ada di dalam batin seseorang. Pikiran dan keyakinan itu mengatakan kepada Anda bahwa Anda adalah seorang yang berharga, dan bahwa Anda cukup mempunyai kemampuan dan cukup disukai. Jika Anda memilih untuk mempercayai pendapat semacam ini tentang diri Anda, Anda kemudian mengharapkan agar orang lain juga mempunyai pandangan yang sama terhadap<br />
diri Anda dan menyukai Anda. Dan karena Anda yakin bahwa Anda cukup berarti atau berharga, cukup mampu, dan cukup disukai, maka Anda akan cenderung untuk bersikap terbuka, ramah, optimis, rajin, rapi, dan berani.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Sebaliknya, jika Anda atau anak Anda kurang mempunyai rasa harga diri, lalu merasa diri tidak mampu, tidak disukai, atau merasa diri tidak berharga atau tidak layak, Anda cenderung untuk berharap bahwa segala usaha Anda akan gagal. Anda menyangka bahwa orang-orang lain akan menolak dan meninggalkan Anda, dan memandang kehidupan Anda sebagai suatu kegagalan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Akibatnya, energi Anda akan dipusatkan untuk menjaga agar orang lain tidak mengetahui bagaimana Anda itu sebenarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Karena Anda menantikan penolakan dan kecaman, Anda cenderung untuk bersikap memusuhi, tertutup, dan tidak ramah. Karena menyangka akan gagal, maka Anda cenderung untuk menjadi malas, membatasi diri dan menyimpang atau melantur ke mana-mana. Dan karena Anda merasa diri tidak berharga, Anda akan mengabaikan kesehatan dan penampilan<br />
Anda. Atau Anda akan memakai waktu berjam-jam untuk mengatur agar penampilan Anda secara lahiriah terlihat cantik untuk mengelabui setiap orang agar semua percaya bahwa Anda mempunyai kepribadian yang baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Jika Anda mengerti hubungan sebab-akibat ini, tidak akan sukar bagi Anda untuk dapat melihat apakah respons Anda terhadap anak Anda itu merupakan sumber utama dari perasaan harga dirinya. Dan bahwa harga diri itu pada dasarnya dibentuk melalui pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Pola-pola pemikiran yang berawal di situ akan sangat sukar untuk diubah lagi dikemudian hari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Harga diri dibangun atas tiga unsur yang fundamental :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">1. Rasa aman karena merasa dimiliki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Hal ini timbul karena ia merasa menduduki posisi yang berarti dan kuat di dalam keluarga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">2. Rasa puas karena ia merasa berhasil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Setiap anak perlu mendapat suatu kesempatan untuk merasa berhasil dalam melakukan sesuatu, dalam bidang apa saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">3. Sukacita karena merasa dihargai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Seorang anak akan senantiasa merasa bersukacita jika ia menyadari bahwa ia berharga dan hal itu dapat dicapai jika ia senantiasa dipelihara denganucapan-ucapan pujian yang tulus dan yang diberikan secara konsisten.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Nah, berikut ini terdapat beberapa macam respon orangtua yang dapat membangkitkan perasaan harga diri yang sehat dan positif di dalam diri anak Anda. Bandingkanlah hal-hal di bawah ini dengan pendekatan yang Anda lakukan sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">1. Pertama-tama periksalah apa yang menjadi sumber harga diri Anda sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Para orangtua perlu mempunyai gambaran yang positif tentang pribadinya sendiri agar dapat membangun hal yang serupa di dalam diri anak-anak mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">2. Berilah anak Anda yang masih kecil berbagai kesempatan agar ia dapatmengembangkan kemampuan dan kepercayaannya akan dirinya sendiri. Sisihkanlah uang untuk membeli mainan, sarana untuk dapat bermain bersama, dan alat-alat yang memungkinkan anak itu untuk berkreasi dan untuk dapat dengan berhasil menguasai dirinya sendiri atau lingkungannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">3. Berilah kesempatan kepada anak Anda untuk memilih bidangnya sendiri supaya ia dapat berkreasi dan berhasil dalam bidang itu. Janganlah mencoba memaksakan pada anak Anda ambisi-ambisi yang ada pada Anda ketika Anda masih muda, atau memaksa dia untuk mencapai apa yang tidak berhasil Anda capai dalam bidang olahraga, bidang pendidikan tinggi, atau dalam bidang kesenian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">4. Dengan penuh perhatian dengarkanlah apa yang dikatakan atau diceritakan oleh anak Anda. Hal demikian akan menanamkan di dalam dirinya bahwa ia adalah seorang pribadi yang menarik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">5. Tanyakan pendapat anak Anda tentang apa yang harus dilakukan dalammenghadapi masalah di dalam berbagai-bagai bidang. Hal demikian dapatmembuat anak itu sadar bahwa ia juga dapat membuat penilaian yang baik dan benar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">6. Jika Anda mengajukan pertanyaan (dan sama sekali tidak mengejek) tentang rencana-rencana anak Anda, Anda akan menolong anak itu mengetahui bahwa ia dapat bersifat luwes dan dapat menilai kembali rencananya apabila ada informasi baru yang diberikan kepadanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">7. Pandanglah setiap anak sebagai satu individu. Jangan sekali-kali Andamembandingkan salah seorang anak Anda dengan anak yang lainnya. Cobalah untuk menonjolkan kebaikan yang khas yang ada pada setiap diri anak Anda dan perhatikanlah juga kelemahannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">8. Diskusikan tentang anak Anda terutama tentang masalah-masalahnya hanya apabila anak itu tidak hadir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">9. Waspadalah terhadap julukan atau nama panggilan yang diberikan pada anakAnda, terutama julukan yang Anda sendiri berikan. Jagalah diri Anda agar Anda tidak memanggilnya dengan nama-nama yang bersifat menghina, atau dengan sebutan yang nampaknya tulus dan jujur tapi di balik itu ada arti yang menghina seperti “si Gembul” karena mungkin hal itu dapat menimbulkan kesan yang tidak disukainya. Ciptakan nama-nama yang positif seperti “Kapten” atau “Putri Kecil”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">10. Jika anak itu bersikap manis, tidak mementingkan diri sendiri, rapi, suka menolong, berdisiplin, kreatif, cekatan, rajin, atau sikap lainnya yang patut dipuji, nyatakanlah pujian Anda itu! Dengan demikian anak Anda akan mengetahui bahwa ia dapat berhasil dalam hal-hal itu. Pujian yang tulus tidak akan merugikan seseorang!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">11. Tunjukkan dan berilah tepukan tangan terhadap berbagai kemajuan yangberhasil dicapai oleh anak Anda, betapa pun kecilnya kemajuan itu. Dengan demikian ia akan belajar untuk bersikap optimis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">12. Janganlah melontarkan kecaman yang bersifat mempersalahkan dan mempermalukan atau mengejek. Hal demikian itu mengajarkan kepada anak itu bahwa mereka pada dasarnya tidak beres.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">13. Janganlah selalu membuat keputusan untuk anak Anda. Jika Anda berlaku demikian, maka anak itu akan menarik kesimpulan bahwa penilaiannya selalu tidak baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">14. Janganlah menonjol-nonjolkan kesalahan dan ketidaksempurnaan anak itu, walaupun memang banyak. Hal ini hanya akan menyebabkan anak itu kehilangan kepercayaan akan dirinya sendiri dan akan merasa tidak yakin akan kemampuannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Segera anak itu tidak lagi menyukai dirinya sendiri, dan juga tidak berharap bahwa orang lain akan menyukai mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Anak-anak yang demikian akan cenderung mengatakan, “Karena bukanlah Ayah dan Ibu itu lebih besar, lebih kuat, dan lebih pandai daripada saya, jadi pasti keputusan dan penilaian mereka itu benar. Pasti ada yang tidak beres pada diri saya!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Cara pendekatan yang sebaliknya jelas akan menghancurkan rasa harga diri anak itu. Jika kita mengikuti kecenderungan kita untuk bersikap negatif dan mengutuk atau bersikap mempersalahkan, maka hal itu merupakan cara yang paling efektif untuk merusak harga diri seorang anak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Jika anak Anda menilai dirinya sendiri berdasarkan cara penilaian diri yang dikemukakan di atas, bagaimana kira-kira kesimpulan anak Anda tentang dirinya sendiri? Kesimpulan yang diambil oleh anak Anda amatlah penting. Dan hanya Anda saja yang dapat memberikan hadiah yang sangat istimewa itu, yaitu hadiah dalam bentuk harga diri yang sejati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Bahan diedit dari sumber :<br />
Judul Buku : 40 Cara Mengarahkan Anak<br />
Pengarang : Paul Lewis<br />
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1997<br />
Halaman : 99-103</span></p>
<p><span><span style="font-size:small;"></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masalahkeluarga.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masalahkeluarga.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masalahkeluarga.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masalahkeluarga.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masalahkeluarga.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masalahkeluarga.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masalahkeluarga.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masalahkeluarga.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masalahkeluarga.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masalahkeluarga.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masalahkeluarga.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masalahkeluarga.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masalahkeluarga.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masalahkeluarga.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masalahkeluarga.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masalahkeluarga.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masalahkeluarga.wordpress.com&amp;blog=3536392&amp;post=5&amp;subd=masalahkeluarga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/04/21/membentuk-konsep-diri-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5fb2535e7d875839d6968487223525d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Alkayyis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebaiknya Ibu Di Rumah</title>
		<link>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/04/21/sebaiknya-ibu-di-rumah/</link>
		<comments>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/04/21/sebaiknya-ibu-di-rumah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 07:22:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Alkayyis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masalahkeluarga.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Saya seorang ibu dengan 2 orang anak , mantan direktur sebuah Perusahaan multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang yang berhasil dalam karir namu sungguh jika seandainya saya boleh memilih maka saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti sekarang dan menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia. Semuanya berawal ketika putri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masalahkeluarga.wordpress.com&amp;blog=3536392&amp;post=4&amp;subd=masalahkeluarga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Saya seorang ibu dengan 2 orang anak , mantan direktur sebuah Perusahaan multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang yang berhasil dalam karir namu sungguh jika seandainya saya boleh memilih maka saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti sekarang dan menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span id="more-4"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang berusia 19 tahun baru saja meninggal karena overdosis narkotika. Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya, suami saya saat ini masih terbaring di rumah sakit karena terkena stroke dan mengalami kelumpuhan karena memikirkan musibah ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami depresi berat dan sekarang masih dalam perawatan intensif sebuah klinik kejiwaan, dia juga merasa sangat terpukul dengan kepergian adiknya. Sungguh apa lagi yang bisa saya harapkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan kepergian Bik Inah pembantu kami. Hingga dia terjerumus dalam pemakaian Narkoba. Mungkin terdengar aneh kepergian seorang pembantu bisa membawa dampak Begitu hebat pada putri kami. Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti keluarga bagi kami, dia telah ikut bersama kami sejak 20 tahun yang lalu dan ketika Doni berumur 2 tahun. Bahkan bagi Maya dan Doni , bik Inah sudah seperti ibu kandungnya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang saya baca setelah dia meninggal. Maya begitu cemas dengan sakitnya bik Inah, berlembar-lembar buku hariannya berisi hal ini. Dan ketika saya sakit saya pernah sakit karena kelelahan dan diopname di rumah sakit selama 3 minggu ) Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat di buku hariannya “Hari ini Mama sakit di Rumah sakit” , hanya itu saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul. Tapi saya akui ini semua karena kesalahan saya. Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni, Maya dan Suami saya. Waktu saya habis di kantor, otak saya lebih banyak berpikir tentang keadaan perusahaan dari pada keadaan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian bahkan mungkin lebih. Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu capai untuk memikirkan urusan mereka. Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara keluarga, namun sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja, ketika hari Senin tiba saya dan suami sudah seperti “robot” yang terprogram untuk urusan kantor.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan sayauntuk berhenti bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu saya tolak, saya anggap ibu terlalu kuno cara berpikirnya. Memang Ibu saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih membesarkan kami 6 orang anaknya. Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi karir ibu waktu itu katanya sangat baik. Dan ayahpun ketika itu juga biasa-biasa saja dari segi karir dan penghasilan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Meski jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti bekerja dan mau mengurus Doni dan Maya, namun selalu sajaperasaan bagaimana kebutuhan hidup bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan lalu apa gunanya saya sekolah tinggi-tinggi ?. Meski sebenarnya suami saya juga seorang yang cukup mapan dalam karirnya dan penghasilan. Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya menjadi lebih perhatian pada Doni dan Maya namun tidak lebih dari dua minggu semuanya kembali seperti asal urusan kantor dan karir fokus saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu untuk mereka, toh teman yang lain di kantor juga bisa dan ungkapan “kualitas pertemuan dengan anak lebih penting dari kuantitas ” selalu menjadi patokan saya. Sampai akhirnya semua terjadi dan diluar kendali saya dan berjalan begitu cepat sebelum saya sempat tersadar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Maya berubah dari anak yang begitu manis menjadi pemakai Narkoba. Dan saya tidak mengetahuinya!!! Sebuah sindiran dan protes Maya saat ini selalu terngiang di telinga. Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja dan memutuskan kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putera satu-satunya, setelah dia ditinggal mati suaminya . Namun karena Maya dan Doni keberatan maka akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa tinggal bersama kami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat dibanggakan Maya. Namun sindiran Maya tidak begitu saya perhatikan. Akhirnya semua terjadi ,setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang lebih dua minggu, bik Inah meninggal dunia di Rumah Sakit. Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa Doni malah pergi dari rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit. Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar bik Inah dibawa ke Singapore untuk berobat setelah dokter di sini mengatakan bahwa bik Inah sudah masuk stadium 4 kankernya. Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu marah pada kami. Dari sini saya kini tahu betapa berartinya bik Inah buat mereka, sudah seperti ibu kandungnya! menggantikan tempat saya yang seolah hanya bertugas melahirkan mereka saja ke dunia. Tragis !</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Dan sebuah foto “keluarga” di dinding kamar Maya sering saya amati Kalau lagi kangen dengannya. Beberapa bulan yang lalu kami sekeluarga ke desa bik Inah. Atas desakan Maya kami sekeluarga menghadiri acara pengangkatan Bagas sebagai kepala sekolah madrasah setelah dia selesai kuliah dan belajar di pesantren. Dan Doni pun begitu bersemangat untuk hadir di acara itu padahal dia paling susah untuk diajak ke acara serupa di kantor saya atau ayahnya. Dan difoto “keluarga” itu tampak bik Inah, Bagas, Doni dan Maya tersenyum bersama. Tak pernah kami lihat Maya begitu senang seperti saat itu dan seingat saya itulah foto terakhirnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Setelah bik Inah meninggal Maya begitu terguncang dan shock, kami sempat erisaukannya dan membawanya ke psikolog ternamadi Jakarta. Namun sebatas itu yang kami lakukan setelah itu saya kembali berkutat dengan urusan kantor. Dan di halaman buku harian Maya penyesalan dan air mata tercurah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Maya menulis :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">“Ya Allah kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus siapa yang bangunin Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang nyambut Maya kalau pulang sekolah, Siapa yang ngingetin Maya buat sholat, siapa yang Maya cerita kalau lagi kesel di sekolah, siapa yang nemenin Maya kalo nggak bias tidur……….Ya Allah , Maya kangen banget sama bik Inah “</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Astagfirullah bukankah itu seharusnya tugas saya sebagai ibunya, bukan bik Inah ? Sungguh hancur hati saya membaca itu semua,namun semuanya sudah terlambat tidak mungkin bisa kembali, seandainya semua bisa berputar kebelakang saya rela berkorban apa saja untuk itu. Kadang saya merenung sepertinya ini hanya cerita sinetron di TV da n saya pemeran utamanya. Namun saya tersadar ini real dan kenyataan yang terjadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Sungguh saya menulis ini bukan berniat untuk menggurui siapapun tapi sekedar pengurang sesal saya semoga ada yang bisa mengambil pelajaran darinya. Biarkan saya yang merasakan musibah ini karena sungguh tiada terbayang beratnya.Semoga siapapun yang membaca tulisan ini bisa menentukan “prioritas hidup dan tidak salah dalam memilihnya”. Biarkan saya seorang yang mengalaminya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Saat ini saya sedang mengikuti program konseling/therapy dan Mencoba aktif ikut dipengajian-pengajian untuk menentramkan hati saya. Berkat dorongan seorang teman saya beranikan tulis ini semua. Saya tidak ingin tulisan ini sebagai tempat penebus kesalahan saya, karena itu tidak mungkin!. Dan bukan pula untuk memaksa anda mempercayainya, tapi inilah faktanya. Hanya semoga ada yang memetik manfaatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya untuk suami dan Doni. Dan semoga Allah mengampuni saya yang telah menyia-nyiakan amanahNya pada saya. Dan disetiap berdoa saya selalu memohon “YA Allah seandainya Engkau akan menghukum Maya karena kesalahannya, sungguh tangguhkanlah Ya Allah, biar saya yang menggantikan tempatnya kelak, biarkan buah hatiku tentram di sisiMu”. Semoga Allah mengabulkan doa saya.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masalahkeluarga.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masalahkeluarga.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masalahkeluarga.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masalahkeluarga.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masalahkeluarga.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masalahkeluarga.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masalahkeluarga.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masalahkeluarga.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masalahkeluarga.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masalahkeluarga.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masalahkeluarga.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masalahkeluarga.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masalahkeluarga.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masalahkeluarga.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masalahkeluarga.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masalahkeluarga.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masalahkeluarga.wordpress.com&amp;blog=3536392&amp;post=4&amp;subd=masalahkeluarga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/04/21/sebaiknya-ibu-di-rumah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5fb2535e7d875839d6968487223525d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Alkayyis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anakku Adalah Dirinya Sendiri</title>
		<link>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/04/21/anakku-adalah-dirinya-sendiri/</link>
		<comments>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/04/21/anakku-adalah-dirinya-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 07:09:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Alkayyis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masalahkeluarga.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[(Peringatan Hari Anak Nasional 23 Juli) Sekelumit Kisah, Saya buka kembali buku hidup saya, sebagai bahan perenungan bagi para orang tua. Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masalahkeluarga.wordpress.com&amp;blog=3536392&amp;post=3&amp;subd=masalahkeluarga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">(Peringatan Hari Anak Nasional 23 Juli)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Sekelumit Kisah,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Saya buka kembali buku hidup saya, sebagai bahan perenungan bagi para orang tua. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;"><span id="more-3"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika “Apa yang kamu inginkan ?” Dika hanya menggeleng. “Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?” tanya saya “Biasa-biasa saja” jawab Dika singkat. Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya. Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 &#8211; 160. Ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas). Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut Psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Oleh sebab itu Psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian. Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa factor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan “Aku ingin ibuku :….” Dikapun menjawab : “membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja”Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif</span><span style="font-size:12pt;"> </span><span style="font-size:12pt;">sehingga saya merasa perlu menjawalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di computer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan “Aku ingin Ayahku …” Dikapun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya “Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu “Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan “Aku ingin ibuku tidak …” Maka Dika menjawab “Menganggapku seperti dirinya” Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti</span><span style="font-size:12pt;"> </span><span style="font-size:12pt;">diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil. Ketika Psikolog memberikan pertanyaan “Aku ingin ayahku tidak : ..” Dikapun menjawab “Tidak mempersalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya. Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan<br />
yang serupa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Ketika Psikolog itu menuliskan “Aku ingin ibuku berbicara tentang …..” Dikapun menjawab “Berbicara tentang hal-hal yang penting saja”. Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwakecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan.Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.Atas pertanyaan “Aku ingin ayahku berbicara tentang …..”, Dikapun menuliskan “Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku”. Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Ketika Psikolog menyodorkan tulisan “Aku ingin ibuku setiap hari……….” Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar ” Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku” Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Secarik kertas yang berisi pertanyaan “Aku ingin ayahku setiap hari…….”Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata “tersenyum” Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku….” Dikapun menuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus” Saya tersentak sekali ! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang atau Le. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata “Lanang” yang berarti laki-laki. Sedangkan Le dari kata “Tole”, Waktu itu saya merasa bahwa panggilan tersebut wajar-wajar saja, karena hal itu merupakan sesuatu yang lumrah di kalangan masyarakat Jawa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi “Aku ingin ayahku memanggilku ..” Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu “Nama Asli”. Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan “Paijo” karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. “Persis Paijo, tukang sayur keliling” kata suami saya.<br />
Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan “To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choise” sebuah seruan yang mengingatkan bahwa “Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan”. Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat. Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang</span><span style="font-size:12pt;"> </span><span style="font-size:12pt;">jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para ayah (orang tua) tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para ayah harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat Nya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:12pt;">Untuk menyambut Peringatan Hari Anak Nasional Tanggal 23 Juli, saya ingin mengingatkan kembali kepada para orang tua supaya selalu berpikir, bersikap dan melakukan hal-hal yang dikehendakiNya</span></p>
<p> </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masalahkeluarga.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masalahkeluarga.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masalahkeluarga.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masalahkeluarga.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masalahkeluarga.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masalahkeluarga.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masalahkeluarga.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masalahkeluarga.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masalahkeluarga.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masalahkeluarga.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masalahkeluarga.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masalahkeluarga.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masalahkeluarga.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masalahkeluarga.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masalahkeluarga.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masalahkeluarga.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masalahkeluarga.wordpress.com&amp;blog=3536392&amp;post=3&amp;subd=masalahkeluarga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masalahkeluarga.wordpress.com/2008/04/21/anakku-adalah-dirinya-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5fb2535e7d875839d6968487223525d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Alkayyis</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
